Saat ini kembali maraknya berita mengenai ijazah palsu. Sebenarnya fenomena ijazah palsu ini sudah lama terjadi di negeri ini. Memang ini sesuatu yang menggiurkan tanpa kuliah atau susah payah belajar bisa mendapatkan ijazah. Hal ini bisa terjadi disebabkan oleh 2 masalah yang mendasar yaitu :

  1. Mudahnya memalsukan ijazah secara fisik.
  2. Sulitnya melakukan klarifikasi terhadap pihak terkait mengenai ijazah.

Coba perhatikan ijazah yang kita miliki tampak sekali begitu mudah untuk dipalsukan, baik dari jenis kertas, latar tulisan, jenis huruf yang digunakan. Perusahaan percetakan level menengah sudah dapat menirunya dengan baik. Untuk mengatasi hal ini maka pihak kampus atau pemerintah harus menetapkan sebuah standar untuk bentuk fisik ijazah, sehingga cukup sulit untuk dipalsukan.  Misalkan mencetak ijazah wajib di Peruri dan memiliki  Certificate of Authenticity (COA).

Hal yang berikutnya adalah sulitnya pihak penerima kerja atau instasi pemerintah untuk melakukan klarifisikasi mengenai keaslian ijazah kepada pihak kampus. Nama kampus yang tertera di ijazah mungkin belum memiliki mekanisme untuk melakukan verifikasi ijazah.

Sebenarnya di era teknologi internet proses verifikasi ini bisa dilakukan dengan mudah. Pemerintah meminta setiap kampus untuk memiliki sebuah sistem informasi di internet yang memiliki fitur memasukan Nomor Induk Mahasiswa kemudian keluarlah beberapa informasi yang sifatnya tidak privat mengenai data mahasiswa tersebut. Data yang dikeluarkan misalkan NIM, Nama, Tanggal Lahir, Tahun Masuk, Tahun Keluar. Kalo dirasakan perlu bisa ditampilkan juga photo dari mahasiswa tersebut.

Bila pada proses tersebut nama mahasiswa sesuai dengan ijazahnya maka  ijazah dianggap sah, namun bila tidak maka pihak penerima kerja bisa melakukan verifikasi lanjut ke kampus terkait untuk memastikan sah atau tidaknya ijazah tersebut.